

Kekerasaan seksual seringkali terjadi di lingkungan kampus, akan tetapi juga sering kali tersembunyi di balik dinding akademik. Komnas Perempuan mencatat total 51 kasus kekerasaan seksusal dan diskriminasi dengan total kasus sebanyak 26 kasus. Beberapa di antaranya lingkungan kampus atau perguruan tinggi. Kampus yang seharusnya adalah tempat ruang aman dan nyaman untuk belajar dan berkembang, tetapi justru menjadi tempat di mana kekerasaan dan pelecehan seksual banyak terjadi. Dari kasus-kasus yang terjadi banyak korban merasa tidak berani, malu, dan tidak percaya kepada sistem yang ada untuk melindungi mereka. Sebagai perguruan tinggi, kampus harus memiliki rasa tanggung jawab besar untuk melindungi mahasiswa mauapun dosen dari kasus kekerasaan dan pelecehan seksual. Salah satu contoh pelecehan dan kekerasaan seksual yang terjadi di Universitas Islam Riau TEMPO.CO, Jakarta mengatakan kasus ini bermula pada Februari 2024, WJ mendatangi SAL untuk meminta rekomendasi mengajar. Setelah memendam trauma, WJ akhirnya melapor pada Agustus 2024. Namun, penyelidikan polisi dihentikan karena dianggap daluwarsa. Ketika SAL mengudurkan diri dari jabatan dekan setelah kasus ini viral, Ia melaporkan WJ atas tuduhan pencemaran nama baik. Hingga kini, masih berlangsung.
Menurut Zamia Safira M.PSi., ia merupakan seorang psikolog yang menghadiri acara “Rise and Resist”. Menurutnya, bentuk-bentuk pelecehan seksual dapat terbagi menjadi beberapa kategori. Kategori pertama ialah melalui sentuh kulit atau tangan tanpa persetujuan orang yang disentuh. Kategori kedua ialah adanya manipulasi pikiran atau juga bisa disebut dengan gaslighting. Terakhir ialah kategori ketiga, yakni menyebarkan foto yang tidak layak disebarkan atau bisa disebut foto tidak berpakaian.
Tidak hanya jenis-jenis kekerasan seksual, Ms. Sophia Bernadette, S.E., M.I.Kom. juga menyatakan bahwa ketimpangan relasi kuasa bisa terjadi kepada dosen ke mahasiswa, senior ke junior, dan juga pimpinan organisasi ke anggota. Kekerasaan seksual bisa menimpa kedua belah gender tetapi hampir 30% perempuan di dunia korbannya. Menurut Zamia Safira M.Psi.,psikolog dampak kekerasaan seksual dalam psikologis ini bisa seperti PTSD (gangguan stress pasca trauma), depresi, dan juga gangguan kecemasan.
Pentingnya menciptakan lingkungan mahasiswa atau dosen yang nyaman dan aman agar kampus juga terbebaskan dari kasus kekerasaan dan pelecehan seksual. Dengan cara melaporkan ke pihak wajib untuk menangani kekerasaaan seksual. LSPR sudah membentuk unit pelaporan kekerasaan seksual, yaitu PPKS (penanganan pencegahan kekerasaan seksual). Jika mahasiswa ingin melapor bisa langsung menghubungi nomor 0855-8111-934 agar dapat segera diproses kasus yang terjadi pada korban.
Mari menciptakan budaya saling menghormati agar terciptanya lingkungan yang aman dan nyaman bagi masyarakat kampus!
Artikel diketik oleh Putrinia Juwita
Disunting oleh Alivia Ichsania Yuanani